Bagaimana Menjadi Terapis ?

by on March 20, 2012

Sesuai dengan istilahnya “Terapi Permainan” pendekatan dan metode yang digunakan haruslah cara-cara yang menyenangkan. Akan lebih baik jika si anak tidak merasakan bahwa dirinya sedang menjalani terapi.

Beberapa orang tua yang memiliki anak TG membutuhkan bantuan terapis untuk memberikan perubahan pada anak mereka. Bukan berarti tidak bisa dilakukan sendiri oleh orang tua tersebut. Alasan menggunakan jasa terapis adalah supaya apa yang akan dilakukan pada anak mereka lebih terarah dan tentunya ditangani oleh ahlinya.

Ada delapan cara untuk melakukan pendekatan yang menyenangkan selama terapi berlangsung. Tidak hanya menyenangkan, delapan cara ini dapat memberikan pengaruh akan keberhasilan terapi yang dilakukan.

1. Ciptakan suasana hangat dan bersahabat bersama si anak. Langkah ini akan sangat menentukan apakah si anak menerima kita sebagai terapis atau sebagai ancaman baginya. Lakukan dengan wajar, jangan terkesan SKSD (sok kenal sok deket). Perkenalan dengan mencari tahu apa yang digemari si anak akan menjadi awal yang baik.
2. Terima si anak apa adanya. Pada tahap ini terapis harus benar-benar memahami bahwa yang akan diterapi adalah anak TG. Hilangkan kesan bahwa seseungguhnya si anak sama dengan anak normal pada umumnya. Namun, selalu tegaskan keadaan mereka berbeda, tetapi mereka pun bisa melakukan apa saja seperti anak normal lainnya.
3. Selalu Terbuka. Anak Tg pada umumnya memiliki masalah pribadi, perasaan, bahkan keinginan pribadi. Terapis haruslah terbuka akan pendapat atau keluhan yang dikemukakan. Sebisanya sebagai seorang terapis membantu, sekecil apapun masalah yang mereka hadapi. Misalnya pada TG yang berakjak remaja. Mereka sering merasa malu untuk mengutarakan masalah mereka. Terutama masalah percintaan. Sikap terbuka dari terapis diharapkan mampu memberi jalan untuk mereka selalu bercerita.
4. Kenali perasaan dan ekspresi si anak. Emosi dan ekspresi anak TG cenderung susah diprediksi. Namun, mereka mengutarakan dengan cara yang sedikit berbeda. Tugas terapis ialah memahami setiap perasaan dan ekspresi si anak, ketika sedih, senang, marah, dll.
5. Menghargai setiap usaha anak ketika menyelesaikan masalah. Jangan beranggapan bahwa anak TG harus selalu dalam bimbingan, pengawasan, dan bantuan orang lain. Ketika memiliki masalah, percayalah bahwa mereka dapat mengatasi dan menyelesaikan masalahnya sendiri. Bertindaklah jika anak meminta bantuan. Selebihnya berikan biarkan mereka mengatasi masalah mereka sendiri. Apapun solusi yang mereka pilih tetap berikan penghargaan, jika solusi yang mereka pilih dirasa tidak baik, berikan pengertian.
6. Jangan pernah menjadi pemimpin. Ketika terapi berlangsung, biarkan si anak mengatur sendiri gerak dan bahasanya. Biarkan dia yang mengawali dan mengakhiri proses terapi.
7. Jangan pernah tergesa-gesa selama terapi berlangsung. Ingat! terapi ini adalah proses bertahap. Kemajuan sekecil-kecilnya akan sangat berharga. Lakukan perlahan tapi pasti.
8. Kenalkan pada hak dan kewajiban antara si anak dan terapis. Ini akan membantu si anak sadar akan tanggung jawabnya. Selain itu akan membuat si anak lebih bijak memnggunakan haknya.

Intinya, terapi yang kita ciptakan untuk si anak adalah media si anak untuk bergerak, berekspresi, dan berpendapat secara nyaman. Buat si anak mau, nyaman, dan lakukan :)

{ 2 comments… read them below or add one }

Harnowo September 6, 2012 at 12:26 pm

Terima kasih informasinya tentang putra TG, saya akan selalu menanti informasi lainnya, khususnya strategi untuk meningkatkan kemampuan akademis terutama berhitung. Semoga ada forum saling sharing tentang penanganan putra putri TG.

Reply

November 20, 2012 at 12:53 pm

@pak Harmono
sama2 pak,..maaf baru balas komen,..lama ndak ngeblog,..

Reply

Leave a Comment

Previous post: