Obat Dosis Tinggi Sebab Lain Ketunagrahitaan

by on September 8, 2011

Sebelumnya pernah saya bahas mengenai Sebab Ketunagrahitaan. Kali ini saya punya cerita tentang seorang gadis yang mengalami retardasi mental karena perlakuan medis dan konsumsi obat-obatan dengan dosis tinggi. Kebetulan gadis ini tetangga saya, sebut saja namanya Ita. Sebelum menetap di Mojokerto, Ita dan keluarganya sempat tinggal di Ambon tempat ia dilahirkan. Ketika saya melakukan penelitian di SMALB-C Pertiwi di Mojokerto, Ita baru saja lulus dari SMPLB-C Pertiwi di Mojokerto.

Bulan Romadhon kemarin saya sering bertemu dengan Ita dan Mama Ut (orang tua Ita). Ita begitu rajin mengikuti sholat tarawih. Bisa dikatakan saya salut sama Ita. Ita begitu percaya diri, supel, dan mengerti akan kewajiban dia sebagai anak. Meskipun Ita tergolong remaja yang memiliki kelemahan dalam segi mental dan fisik. Secara fisik Ita nampak normal, hanya saja pada bagian hidung (Maaf, terlihat sangat pesek). Pada bagian hidung inilah awal terjadinya tindakan medis yang menyebabkan Ita harus masuk sekolah khusus anak tunagrahita.

Saya memberanikan diri untuk bertanya tentang Ita kepada Mama Ut. Awalnya saya takut Mama Ut kecewa atau marah karena saya banyak bertanya tentang Ita. Ternyata, Mama Ut begitu baik hati dan senang bisa berbagi cerita tentang Ita. Jadi, Ita adalah anak pertama dari Mama Ut yang dilahirkan di Ambon. Selama mengandung Ita, Mama Ut tidak merasakan hal ganjil apalagi mengidap penyakit berbahaya. Namun, pada usia kandungan delapan bulan dokter kandungan menyatakan bahwa kandungan Mama Ut sungsang. Dokter menyarankan supaya Mama Ut melakukan senam. Alhamdulillah, posisi Ita kecil kembali pada tempatnya.

Pada saatnya Ita lahir, fisik Ita normal. Ita kecil mengalami masalah pada pernapasan yang akhirnya menyerang bentuk hidungnya. Dokter yang menangani Ita mengatakan bahwa Ita terlalu banyak menghirup air ketuba ketika akan dilahirkan. Akhirnya, satu-satunya cara adalah menggunakan alat sedot (jalan operasi) yang fungsinya membersihkan air ketuban yang berada di dalam hidung Ita. Setelah semua upaya tersebut dilakukan Mama Ut merasa lega, karena pernapasan Ita tidak terganggu lagi.

Beberapa bulan setelah operasi. Ketika Ita sudah berusia delapan bulan. Telinga Ita terus menerus mengeluarkan darah segar. Kembalilah Ita ditangani dokter spesialis THT. Ita harus kembali menjalani perawatan dan mengkonsumsi obat-obatan dengan dosis tinggi. Setelah masalah ini kesabaran Mama Ut sebagai Ibu kembali diuji. Mata Ita tidak begitu jelas dan fokus. Mama Ut mengira Ita mengalami kebutaan. Kembalilah Ita berurusan dengan dokter spesialis mata. Alhasil, Pak dokter memvonis Ita terkena katarak yang sebenarnya sudah dibawa sejak lahir. Akhirnya, Ita harus melaksanakan operasi mata.

Setelah operasi mata, Ita tak lagi berurusan dengan doketer-dokter spesialis hidung, telinga, dan mata. Ita tumbuh dengan wajar. Ketika Ita memasuki usia sekolah, Mama Ut mulai menyadari ada keganjilan lain yang dialami anaknya. Awalnya Ita bersekolah di sekolah reguler. Namun, prestasi akademik Ita jauh tertinggal dengan teman sekelasnya. Mama Ut memutuskan untuk memeriksakan Ita ke psikiater. Hasil tes menunjukkan bahwa Ita tergolong tungrahita ringan. Semenjak itu Ita bersekolah di SLB-C khusus tunagrahita.

Riwayat kesehatan Ita dianggap penyebab ketunagrahitaan yang dialami Ita. Karena sejak bayi Ita mengalami beberapa kali operasi dan konsumsi obat-obatan dengan dosis tinggi. Bagaimana keseharian Ita, Insyaallah akan saya ceritakan lain waktu. :)

 

{ 1 comment… read it below or add one }

buchin September 8, 2011 at 11:14 am

Saya menunggu cerita anda tentang “lain waktu” itu 😀

Reply

Leave a Comment

Previous post:

Next post: